By Admin  Article Published 20 May 2014
 

 

 

Indikator bersimbol khas ini dikenal sebagai ‘Check Engine’. Namun sebenarnya tak selalu mengindikasikan telah terjadi kerusakan mesin. Lantas apa yang mesti kita perbuat bila lampu ini menyala? Pelajari 10 fakta menarik berikut ini.

1. Bukan kerusakan mesin

Meski mendapat julukan check engine,  nyatanya lampu ini tak mampu mendeteksi kerusakan mekanikal mesin seperti piston, klep, dan komponen mekanis lainnya. Indikator ini hanya mendeteksi kerusakan atau ketidakberesan yang ditangkap oleh sejumlah sensor elektronik.

Jadi seluruh perintah menyalakan lampu check engine  berasal dari ECU yang berkaitan dengan sistem kelistrikan. Tapi jika mesin Anda mengalami kebocoran kompresi, overheat,  atau bahkan jebol, lampu ini tak bisa menginformasikannya.

Namun bila kerusakan mekanikal ini Anda biarkan, dan bertambah parah maka engine check baru akan menyala. Karena kerusakan bisa terdeteksi dari emisi gas buang yang dihasilkan.


2. Lampu mewakili puluhan jenis kerusakan

Tanpa alat memadai, Anda tak akan tahu persis apa yang menyebabkan check engine  menyala. Pasalnya lampu ini mewakili puluhan malfungsi yang bisa terjadi di mobil.

Mulai dari yang paling ringan, yaitu bila ada soket kelistrikan atau sensor yang kendur atau kotor. Hingga paling parah yang menyangkut kerusakan ECU.

Untuk mengetahui persis kerusakan yang terjadi, Anda mesti datang ke bengkel yang memiliki scanner  atau bengkel resmi. Setelah dihubungkan ke ECU, pemindai akan menginformasikan bagian mana yang malfungsi sehingga mengaktifkan lampu check engine.

3. Aman melaju ke bengkel

Karena kerusakan yang memicu nyalanya check engine  tak berkaitan langsung dengan sistem mekanikal, secara umum Anda masih aman untuk melajukan mobil ke bengkel resmi terdekat. Oleh sebab itu lampu ini diberi warna kuning oleh pabrikannya, bukan merah.

Meski begitu, tidaklah bijaksana bila Anda mendiamkannya terus-menerus, atau menunda pemeriksaan ke bengkel. Bisa saja kerusakan ini mempengaruhi efisiensi mesin atau keselamatan berkendara Anda.

4. Check engine bisa direset

Beberapa mobil memiliki jalan pintas untuk mematikan lampu check engine.  Ada yang dengan menekan pedal gas 10 detik sebelum menyalakan mesin, atau dengan menyala-matikan kunci kontak beberapa kali.

Namun hal ini sangat tidak kami rekomendasikan untuk dilakukan. Karena cara ini hanya mematikan lampu peringatan tanpa menyelesaikan problem pemicu nyalanya lampu tersebut. Lebih parah lagi, saat lampu check engine  direset maka scanner  sekalipun tak dapat lagi mendeteksi kerusakan yang terjadi.

Itu sebabnya pabrikan mobil tak pernah memberitahu cara mereset lampu check engine  dalam buku manual. Cara ini hanya direkomendasikan untuk mekanik, itu pun setelah kerusakan diperbaiki.

5. Bisa salah menyala

Terkadang lampu check engine  bisa salah menyala karena sebuah gangguan ringan. Misalnya sambungan kelistrikan longgar akibat mobil terkena guncangan.

Karena itu langkah pertama yang mesti dilakukan bila lampu ini menyala adalah segera menepi, dan mematikan mesin. Setelah itu nyalakan lagi mesin, dan lihat apakah lampu masih menyala. Bila lampu mati, maka Anda tak perlu khawatir untuk meneruskan perjalanan secara normal.

6. Modifikasi mobil bisa membuat lampu menyala

Ada sejumlah modifikasi yang dapat membuat indikator check engine  menyala. Salah satu yang paling sering terjadi adalah saat kita mengganti knalpot dan mencopot catalytic converter.  Sensor udara di knalpot akan mengindikasikan emisi berlebih dan menganggapnya sebagai kesalahan mesin.

Selanjutnya ECU akan terus menerus memerintahkan mesin untuk melakukan koreksi campuran bahan bakar, tanpa mengetahui bahwa kesalahan tersebut akibat dari langkah melepas catalytic converter.  Alhasil efisiensi kerja mesin jadi berkurang.

Modifikasi sistem kelistrikan maupun pengapian di beberapa mobil juga bisa memicu menyalanya lampu ini. Bila hal ini terjadi, sebaiknya batalkan modifikasi yang akan Anda lakukan. Karena bila ‘alarm palsu’ ini konflik dengan program ECU mobil, maka bisa terjadi penurunan performa mobil secara keseluruhan.

7. Menyala tanpa kerusakan

Pada sejumlah mobil lama keluaran hingga 1990-an, lampu check engine  diset untuk menyala otomatis bila odometer telah menunjukkan ngka lebih dari 100.000 km. Uniknya, saat lampu ini menyala, kerusakannya tak bisa dibaca oleh scanner.

Ini berarti lampu menyala untuk mengingatkan Anda agar mengganti sensor oksigen di knalpot. Dan jika sudah dilakukan penggantian, mintalah mekanik bengkel resmi untuk mereset ulang, dan mematikan check engine.

8. Dipelopori oleh Volkswagen

Siapa sangka, fitur on-board diagnostic  (OBD) ini dipelopori oleh ‘mobil rakyat’ dari Jerman, Volkswagen. Mereka menciptakan mobil massal pertama di dunia yang menggunakan sistem injeksi elektronik di 1968 pada mesin 1.600 cc. Saat itu mereka juga menunjukkan keunggulan sistem injeksi elektronik dengan ECU yang memungkinkan diagnosa kerusakan dari dalam mobil.

9. Merupakan fitur wajib

Mengapa semua mobil injeksi memiliki fitur check engine? Jawabannya adalah regulasi. Fitur ini tak lagi jadi pilihan pabrikan untuk menempatkannya di mobil, melainkan kewajiban yang mesti dipenuhi.

Badan perlindungan lingkungan Amerika Serikat atau United States Enviromental Protection Agency (EPA)-lah yang mewajibkan fitur ini ada di semua mobil yang dijual di sana.

Alasannya simpel, fitur check engine  mampu mendeteksi emisi berlebih yang tidak normal dari mesin. Alhasil akan berkontribusi baik ke lingkungan. Eropa pun lantas mengaplikasi hal serupa. Karena seluruh produsen mobil di dunia selalu mengejar penjualan di kedua benua ini, tak ayal seluruh produk mereka pun mendapat fitur check engine.

10. Bisa dipindai via ponsel

Saat ini ada sejumlah software  pembaca arti check engine  yang dijual di pasaran. Hebatnya, program-program ini tak perlu komputer PC untuk menjalankannya, namun cukup sebuah smart phone. 

Saat check engine  menyala, program memberitahu Anda kerusakan yang terjadi tanpa perlu ke bengkel. Bahkan Anda juga bisa melakukan  reset  untuk mematikan lampu indikator ini.

Namun syaratnya, ponsel Anda mesti memiliki OBD-reader  dengan koneksi Bluetooth. Alat mungil ini lantas dihubungkan ke port  OBD di bawah dasbor, dan mengirimkan info ke ponsel.

Bila tertarik, Anda tinggal mencari di internet dengan keyword  “OBD Reader Bluetooth”, dan “OBD Reader Software”. Namun harap dimaklum, tak semua mobil bisa dipindai dengan cara ini.



Related Article