By Admin  Article Published 21 May 2014
 

 

 



Kehadiran penal instrumen di dalam mobil sudah kita anggap biasa. Tak ada satupun mobil dijual massal yang tak memiliki panel instrumen. Tanpa deretan indikator ini, kita tak akan tahu persis bagaimana kinerja mobil saat kita mengendarainya.

Bahkan sejak dulu, keindahan, fitur, serta kualitas panel instrumen seolah menjadi simbol status mobil. Semakin mahal dan berkelas sebuah mobil, semakin canggih dan indah panel instrumennya.

Tapi dalam keadaan paling standar sekalipun, mobil modern memiliki alat instrumen komprehensif yang memungkinkan kita melajukan kendaraan tanpa khawatir. Setiap saat instrumen akan menginformasikan kecepatan,suhu mesin, putaran mesin, volume bahan bakar tersisa, dan banyak lainnya. Bahkan jika terjadi malfungsi di sebuah komponen, biasanya instrumen akan mampu menampilkan peringatan.

History

Saat mobil pertama kali dibuat pada akhir abad ke-19, tak ada satupun instrumen di kokpitnya. Pengemudi saat itu hanya mengandalkan perasaan untuk mengetahui kondisi kecepatan atau putaran mesin mobil. Tapi itu tidak masalah mengingat mobil pertama hanya bertenaga 1 dk, dan memiliki kecepatan lebih lambat ketimbang orang berlari.

Mulai tahun 1900, kecepatan mobil perlahan meningkat dan diperkenalkanlah spidometer sebagai sarana pengukur kecepatan. Metode yang digunakan adalah kabel berputar yang akan menekan jarum berpegas. Metode yang disebut Eddie Current  ini simpel dan murah, sehingga masih digunakan hingga saat ini.

Walaupun simpel, pada tahun 1900, peranti ini termasuk canggih dan hanya ditawarkan ke konsumen sebagai opsi tambahan. Barulah pada tahun 1910 spidometer hadir sebagai komponen standar di mobil baru. Konsumen pun jadi punya parameter baru dalam menyebut kecepatan yakni km/jam atau mil/jam.

Setelah spidometer, barulah instrumen lain bermunculan. Misalnya takometer untuk mengukur putaran mesin, pengukur suhu mesin, bahan bakar, dan beberapa instrumen lainnya. Semakin banyak pernik intrumen yang dimasukkan ke dalam mobil, semakin ‘wah’ pula statusnya di mata umum.

Contohnya Lamborghini Miura yang diproduksi akhir 1960-an. Bayangkan, di zaman itu mobil ini mempunyai 8 buah alat ukur di panel instrumennya. Dua buah instrumen (spidometer dan takometer) diletakkan persis di depan pengemudi, dan enam lainnya ada di konsol tengah. Alhasil sports car  ini terlihat modern dan canggih.

 Elektronik
Kegilaan pabrikan mobil dalam merancang instrumen mencapai titik paling heboh di 1976, ketika para insinyur AstonMartin ‘nekat’ membuat panel instrumen digital elektronik untuk Lagonda. Dan ini menandai pertama kalinya pabrikan mobil memasang panel instrumen digital.

Hasilnya adalah sebuah kekacauan. Dengan rendahnya teknologi saat itu, tampilan digital pada Lagonda sangat sering bermasalah. Bukan hanya sulit terlihat pada siang hari, dalam jangka waktu tak berapa lama instrumen ini pun rusak. Kejadian tersebut dikeluhkan sebagian besar pemilik mobil eksotis ini.

Penerapan instrumen digital oleh Aston Martin saat itu dinilai terlalu dini karena teknologinya belum memadai. Dan sebagai akibatnya, seluruh peranti elektronik yang tidak reliable  ini malah membuat biaya pembuatan mobilmembubung naik sampai 4 kali lipat. Membuatnya jadi salah satu mobil produksi massal termahal sepanjang masa. 

Butuh waktu 7 tahun sebelum akhirnya ada pabrikan mobil Eropa lain menggunakan instrumen digital, yakni Renault 11 Electronic. Dan seketika banyak pabrikan mobil menganggap masa itu sebagai saat yang tepat untuk memulai era digital. Namun hal itu kembali urung terjadi.

Mahalnya biaya perbaikan bila rusak, masalah iluminasi pada siang hari, dan hilangnya sensasi pergerakan jarum saat berakselerasi membuat instrumen digital tak sampai mewabah. Tapi melihat keuntungan akurasi dari instrumen elektronik, para pabrikan malah menemukan solusi baru yakni instrumen jarum yang digerakkan oleh pulsa magnet.

Pengembangan ini sangat diterima masyarakat. Selain lebih akurat, indikator analog-elektronik ini lebih tahan lama. Berbeda dengan tipe kabel yang menjadi bergetar bila aus, instrumen elektronik akan tetap bergerak halus dan berusia panjang.

Milenium

Begitu melewati pergantian milenium, ada sejumlah tonggak sejarah dalam perkembangan instrumen. Diinspirasi oleh teknologi aviasi, beberapa pabrikan memakai sistem HUD (head-up display). Di Indonesia, Anda bisa merasakan kecanggihan instrumen ini pada beberapa tipe BMW dan Peugeot.
 
Perkembangan terbaru, layar LCD sebagai pengganti instrumen jarum mulai diluaskan cakupannya. Simpelnya, sistem ini membuat seluruh instrumen mekanikal digantikan semua dengan tampilan di layar LCD.

Saat mesin mati, tak ada yang terlihat selain layar kosong. Tapi begitu bekerja, seluruh informasi ditayangkan di layar menyerupai tampilan instrumen analog. Kalau Anda penasaran, instrumen LCD ini sudah diterapkan pada Mercedes-Benz S-Class serta Jaguar XJ, yang bisa dengan mudah dilihat di showroom.

Ada sejumlah keuntungan signifikan dari instrumen LCD ini. Bukan hanya lebih ringkas, instrumen model ini lebih

presisi meski dengan tampilan analog. Juga Anda dapat mengubah tampilan layar bila tersedia update baru dari  pabrikan. Dengan variasi permainan warna dari software,  tampilannya juga bisa dibuat keren dan modern.

Supercar  Lexus LF-A dilengkapi panel instrumen LCD karena satu alasan penting lain. Hanya instrumen jenis ini yang mampu mengikuti respons kilat dari mesin V10-nya.

Perkembangan instrumen mobil pun mencapai babak baru.

Tahukah Anda?
Pengukur kecepatan di mobil Anda tidaklah akurat, dan itu bukan kesalahan pembuatan. Dari fasa perancangan, produsen mobil memang membuat pembacaan spidometer lebih tinggi dari kecepatan aktual sekitar 5%.

Alasannya, para produsen ingin memastikan kalau pengendara mobil tidak melaju melebihi batas kecepatan maksimal.

Peraturan internasional pun mengatur hal ini. Spidometer tak boleh menunjukkan angka di bawah kecepatan aktual, dan maksimal tak lebih dari 10% di atas kecepatan aktual.

Bila ingin tahu kecepatan sesungguhnya mobil Anda, cara paling akurat saat ini adalah dengan menggunakan GPS.


Related Article