By Admin  Article Published 27 May 2014
 

 

 

 

“Secara garis besar, kami membagi mobil dalam 3 bagian, yakni mesin, bodi, dan interior. Dari situ kami melakukan pengembangan,” urai Satriyo Budiutomo, Executive Coordinator, Development Project Team No. 1 Dept, Research & Development Division PT Astra Daihatsu Motor (ADM).


Mesin
“Biaya terbesar pengembangan mobil adalah mesin. Makanya Daihatsu melakukan banyak inovasi pada mesin berkode 1KR-DE ini. Salah satunya adalah dengan menyatukan exhaust manifold dalam kepala silinder,” lugas Satriyo. Catalytic converter (CC) dibuat lebih kecil dan posisinya lebih dekat ke mesin, sehingga tidak memerlukan pemanas agar dapat mencapai suhu kerja.    
Filter oli Ayla disatukan dengan blok silinder. “Selain itu, material rumah penampung oli diganti dari aluminium menjadi pelat biasa. Biaya permesinan pelat besi lebih murah dari aluminium. Itupun dengan kekuatan menahan benturan lebih baik,” lengkap pria ramah ini.

Tutup kepala silinder Ayla diganti dari besi menjadi plastik PVC. Termasuk jumlah baut pengikat kepala dan blok silinder dikurangi dari 15 buah menjadi 13 buah. Tentu dengan tetap memperhitungkan kualitas.

Kecuali Honda Brio Satya, se­­mua produk LCGC tanpa tek­no­logi katup variabel. Obyektif utamanya adalah menekan bia­ya produksi. Positifnya, mesin men­jadi lebih kompak, ringan, dan efektif dalam menghasilkan tenaga.


Mesin 3-silinder cocok untuk 'stop and go' serta irit BBM meski minus katup variabel

Pendekatan pada mesin bisa berbeda antar pabrikan. Seperti Datsun GO dan GO+ yang menggunakan mesin Nissan March. Namun cost reduction tidak bisa lepas dari parameter utama, yaitu tenaga, torsi, noise vibration harsh (NVH), dan konsumsi BBM.

Bodi
Toyota-Daihatsu Agya-Ayla mengaplikasikan material High Tensile Strong Steel Sheet sebagai panel bodi. Bahan ini lebih ringan 40% dari baja biasa dan lebih ta­han karat. Makanya, proses anti karat juga dapat dikurangi.

Profil bodi dibuat lebih minimalis dan tanpa guratan tajam. Upaya tersebut membuat proses permesinan menjadi lebih simpel dan cepat. Cost untuk tools dan produksi dapat dihemat.

Bodi termasuk kaki-kaki tidak mendapatkan banyak sentuhan karena berkaitan dengan safety. Makanya teknologi bodi GOA ala Toyota masih diterapkan. Sedikit sentuhan ada di power steering elektrik yang hemat komponen mekanis ketimbang hidraulis. Ter­masuk wiper tunggal pada GO.

Tetap menyediakan ruang untuk foglamp Pelek besi hanya dihiasi dop



Interior
“Hal terpenting yang harus dipenuhi adalah kebutuhan dasar pemilik mobil,” ungkap Satriyo kembali. Salah satu pendekatan APM adalah dengan mengeluarkan model basic dengan fitur ‘secukupnya’.

Daihatsu Ayla tipe D paling irit karena tanpa foglamp, power steering, power window, audio, dan AC. Sementara Datsun GO hanya menyediakan dongle untuk koneksi dengan gadget. GO juga tidak dilengkapi kunci bagasi. Ketiganya menggunakan pelek besi dan rumah spion hitam. Bahkan Ayla dan Suzuki Karimun Wagon R bumpernya dicat hitam.

Panel pintu juga dibuat ringkas tanpa banyak lekukan. Mirip mobil di era 1980-1990an. Bahan plastik mendominasi kabin. Sementara dasbor dipangkas jarak­nya dari kaca depan. Keuntungan lainnya, kabin terasa lega.

Anda melihat instrumen digital lebih canggih ketimbang analog? Jawabannya bisa ya. Tapi panel instrumen digital juga mampu menekan biaya produksi karena mengurangi komponen mekanis. Makanya, selain kecepatan dan putaran mesin, info lain dibuat digital.

Jangan remehkan biaya pro­duksi bangku mobil. Karena selain kenyamanan, kepraktisan, dan estetika, faktor safety memegang peran sangat penting dalam proses pembuatan jok.

Kelir dof menghemat biaya produksi

pilihan transmisi manual untuk mengejar konsumsi BBM dan menghemat harga mobil

Bergaya sport namun hemat dalam produksi

“Meski mobil LCGC bahan bangkunya terlihat biasa saja, tapi sudah melalui tahap peng­ujian terhadap goresan, api, dan air. Daihatsu memiliki standar kelaikan terhadap parameter tersebut. Makanya, kami tidak bisa sembarangan memilih material bangku,” ungkap Sarjana Ekonomi ini.

Upaya mengurangi biaya produksi dilakukan pada desain bangku yang cenderung rata, baik pada alas ataupun sandar­an. Penggunaan busa berkurang dan proses pembuatan kian ringkas.

Lainnya adalah membuat sandaran jok dan headrest menyatu. Seperti pada jok depan semi-bucket. Terlihat keren, padahal itu menghemat pemakaian besi penyangga, pengunci, dan bahan headrest.

Ke belakang, sandaran jok me­nyatu dengan mekanisme peli­patan sederhana. Bahkan hanya bermodalkan kait di kedua ujung sandaran.

Sebenarnya, uraian kami baru sedikit dari banyak hal yang dilakukan dalam menghemat biaya produksi. Tapi paling tidak sudah memberikan gambaran mengenai bagaimana upaya menekan harga mobil terjangkau.

Kaca samping tanpa power window Material plastik menjadi solusi berhemat Pengait bangku minimalis tapi safty


Related Article